Goresan KR

Catatan dari perjalanan hidup

Ketika handphone ada ditangan……………

Dibeberapa negara sudah ada undang-undang yang melarang menggunakan handphone disaat sedang mengemudi.
Di Indonesia belum ada undang-undang nya, yang ada baru sebatas anjuran, ada undang-undang saja banyak yang melanggar, gimana dengan anjuran, paling2 cuma dibaca saja tapi belum tentu diterapkan. Kita bisa sering melihat di Indonesia, orang sedang mengemudi mobil, tangan kanan pegang stir mobil – tangan kiri pegang handphone yang menempel di telinga. Ini belum apa2, saya malah sering melihat ada pengendara sepeda motor berjalan dengan membaca SMS, hebat khan ?! Tentu saja konsentrasi tidak bisa penuh, karena harus berbagi dengan mendengar telepon atau baca SMS via handphone. Kalau cuma membahayakan diri sendiri mungkin tidak seberapa, nah kalau orang lain menjadi korban, tertabrak misalnya, karena lengah melihat situasi jalan, orang lain lah yang dirugikan.

Mempunyai handphone memang bukan monopoli orang kaya saja, sekarang hampir setiap orang puya handphone, cuma bagaimana orang menggunakannya dan ber etika ketika memegang handphone ? Penyakit ber SMS dimana saja sudah semacam virus, hampir di setiap tempat, disetiap waktu, kita bisa melihat orang ber-SMS ria, menerima, membaca, menulis, mengirim SMS. Kadang2 ber-SMS itu bagai tak mengenal waktu dan tempat, yang akhirnya orang lain yang dirugikan. Lho kok orang lain yang dirugikan ? Pernah masuk toko, kemudian pelayan-nya sedang SMS-an, anda diacuhkan, menunggu dia selesai menulis SMS baru dia melayani anda ?

Yang pernah saya alami dan akhirnya saya mengirim e-mail protes adalah yang berhubungan dengan karyawan Trans Jakarta (busway): di halte Olimo, jalan Gajahmada, saya harus menunggu uang kembali agak lama sebab sipetugas loket sedang menulis SMS, sampai terkirim dulu. Tidak hanya itu; pas sudah masuk kedalam busway, ternyata saya melihat petugas yang berdiri dipintu (apa ya namanya ?) asyik SMS-an, berhenti sebentar ketika busway di shelter, sementara handphone tetap ditangan, begitu jalan dia melanjutkan menulis SMS yang tertunda, sepanjang dari halte Olimo sampai halte akhir blok M dia SMS-an terus.

Hal yang serupa juga pernah saya lihat didalam busway Trans Jogja, petugasnya asyik SMS-an sepanjang dia bertugas. Kalau sudah begini sudah pasti mereka itu tidak konsentrasi 100% pada penumpang, pelayanan pun tidak maksimal karena dia terbagi oleh SMS, tentu orang lain penumpang yang dirugikan.

Orang memang punya hak memakai handphone kapan dan dimana saja, tetapi saya rasa lebih bijak kalau perusahaan mengatur bahwa selama bertugas karyawannya tidak boleh menggunakan handphone, agar pelayanan terhadap publik atau pelanggan lebih maksimal atau tidak di abaikan. Setujukah anda dengan pendapat saya ini ?

Iklan

September 22, 2008 - Posted by | etika |

3 Komentar »

  1. yup..kadang2 bunda juga sebel pas lagi di pasar, mau nawar..eh yg jualan lagi teriak2 di hp… ya udah bunda tinggal aja..beli temat lain ahh

    Komentar oleh bunda rie | September 22, 2008 | Balas

  2. Waduh, nyetir motor sambil smsan mah udah keterlaluan, kalo saya pribadi sih sering ngeliat ada yg ngemudi sambil smsan. termasuk saya sendiri, aduh jadi malu… wwkwkwkw

    Komentar oleh Harry | September 23, 2008 | Balas

  3. saya setuju

    Komentar oleh Faris | September 26, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: